Kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 (UTA’45) Jakarta di Kecamatan Cigombong resmi ditutup. Acara penarikan mahasiswa berlangsung di Aula Kantor Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor, pada Kamis, 4 September 2025.
Hadir dalam kegiatan tersebut Sekretaris Camat Cigombong, Yedi Rachmawan, S.IP., M.Si., Ketua LPPM UTA’45 Jakarta Dr. Firman, S.Sos., M.A., Dekan FEBIS Dr. Bobby Reza, S.Kom., M.M., Koordinator KKN Theodorus Rexa Handoyo, S.Farm., M.Farm., para dosen pembimbing, serta seluruh mahasiswa peserta KKN.
Sekretaris Camat Cigombong, Yedi Rachmawan, dalam sambutannya memberikan apresiasi yang tinggi kepada mahasiswa UTA’45 Jakarta. Ia menilai kehadiran mahasiswa selama satu bulan telah membawa dampak nyata bagi masyarakat di berbagai desa.
“Kehadiran mahasiswa membawa warna luar biasa bagi masyarakat. Mulai dari sosialisasi sampah hingga pendidikan anak usia dini, semua sangat membantu. Kami juga banyak berdiskusi dengan mahasiswa mengenai arah pengembangan desa ke depan. Mudah-mudahan tahun depan UTA’45 bisa kembali hadir di Kecamatan Cigombong,” ungkapnya.
Beliau juga menegaskan bahwa pemerintah kecamatan membuka pintu selebar-lebarnya untuk menjalin kemitraan dengan universitas, terutama dalam upaya pemberdayaan masyarakat.
Koordinator KKN, Theodorus Rexa Handoyo, menambahkan bahwa mahasiswa tidak hanya menjalankan program kerja, tetapi juga menghadirkan solusi inovatif, salah satunya dengan menyediakan sembilan unit alat pembakar sampah minim asap.
“Meski bukan solusi akhir, inovasi ini diharapkan dapat membantu mengurangi dampak permasalahan sampah di Cigombong,” jelasnya.
Dari pihak kampus, Ketua LPPM UTA’45 Jakarta, Dr. Firman, menegaskan pentingnya kolaborasi yang telah terjalin. “Kami bangga karena mahasiswa mampu menyelesaikan program meskipun waktu hanya sebulan. Semoga kerja sama dengan Kecamatan Cigombong terus berlanjut,” katanya.

Dekan FEBIS, Dr. Bobby Reza, menilai KKN sebagai ajang penting bagi mahasiswa untuk mengasah kepemimpinan, keterampilan sosial, dan inovasi dalam kehidupan bermasyarakat.
Kesan mendalam juga datang dari para mahasiswa. Markus Alexander dari Prodi Ilmu Pemerintahan mengaku banyak belajar mengenai perbedaan budaya. “Sebagai orang timur, saya harus belajar menyesuaikan diri dengan budaya masyarakat Sunda yang halus dalam bertutur kata. Itu pengalaman berharga bagi saya, selain program kerja yang kami jalankan seperti sosialisasi dan workshop. Saya bangga bisa mengenal masyarakat Cigombong,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua KKN, Hawwin Alaina, mengungkapkan rasa syukur atas kelancaran kegiatan. Ia menilai suasana Cigombong yang kondusif membuat seluruh program kerja berjalan baik dan mahasiswa merasa betah.
“Program kerja kami di Cigombong berjalan lancar, suasananya juga sangat mendukung. Dari segi budaya dan pembelajaran, kami mendapat banyak pengalaman yang tidak ditemukan di perkotaan. Semoga ke depan Cigombong bisa terus menjadi lokasi KKN, karena tempat ini strategis dan masyarakatnya sangat terbuka,” ujarnya.
Acara penarikan mahasiswa KKN UTA’45 Jakarta di Kecamatan Cigombong ditutup dengan suasana hangat dan penuh keakraban. Baik pihak pemerintah kecamatan, kampus, maupun mahasiswa sama-sama berharap agar kerja sama ini terus berlanjut.
Kegiatan KKN 2025 di Cigombong bukan hanya meninggalkan program kerja dan inovasi, tetapi juga meninggalkan jejak positif berupa pengalaman, pelajaran, serta ikatan emosional antara mahasiswa dan masyarakat. Pemerintah Kecamatan Cigombong menyampaikan terima kasih, sementara UTA’45 Jakarta menegaskan komitmen untuk terus menjalin sinergi dengan masyarakat.

Leave a Reply