Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ekonomi, Bisnis, dan Ilmu Sosial (FEBIS) UTA’45 Jakarta menggelar Pelatihan Announcer Radio dan Podcast pada Senin (2/6/2026) di Kampus UTA’45 Jakarta. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya kampus dalam meningkatkan kompetensi komunikasi generasi muda sekaligus mempersiapkan calon-calon penyiar dan kreator konten audio yang siap bersaing di era digital.
Pelatihan menghadirkan sejumlah praktisi media dan penyiar berpengalaman yang membagikan wawasan serta pengalaman langsung dari dunia industri. Tidak hanya diikuti oleh mahasiswa Ilmu Komunikasi, kegiatan ini juga menarik minat mahasiswa dari berbagai program studi di UTA’45 Jakarta serta siswa-siswi SMA yang memiliki ketertarikan terhadap dunia penyiaran, podcast, dan industri kreatif.
Pada sesi pertama, peserta mendapatkan materi dari Arlingga Panega , mantan penyiar Radio Prambors dan Most FM. Dalam paparannya, Angga menjelaskan bahwa menjadi penyiar radio membutuhkan lebih dari sekadar suara yang bagus. Seorang penyiar juga harus memiliki karakter yang kuat, percaya diri, serta mampu membangun kedekatan dengan pendengar.
Menurutnya, kemampuan komunikasi yang baik harus terus diasah melalui latihan, pengalaman, dan kebiasaan memperluas wawasan. “Menjadi penyiar bukan hanya soal berbicara, tetapi bagaimana kita bisa menyampaikan pesan dengan percaya diri, menarik, dan mampu menciptakan hubungan emosional dengan pendengar. Penyiar muda harus berani mencoba dan terus belajar,” ujar Angga.
Sementara itu, Ignatius Indro, mantan penyiar Jakarta News FM dan Green Radio, berbagi pengalaman saat menjadi host program legendaris “Kongkow Bersama Gus Dur”. Dalam paparannya, Indro menekankan pentingnya riset dan persiapan sebelum melakukan wawancara atau siaran bersama narasumber.Menurutnya, seorang host harus mampu memahami karakter narasumber dan membaca situasi agar percakapan dapat berjalan dengan nyaman dan menarik.
Ia juga menceritakan pengalamanya mewawancarai Presiden ke-4 RI, Gus Dur, yang terkadang datang dengan suasana hati yang kurang mendukung untuk berbicara. Sebagai host, tugasnya adalah mencari cara untuk membangun suasana yang nyaman agar percakapan dapat berlangsung dengan baik.
“Seorang penyiar atau host harus mampu membaca situasi dan karakter narasumber. Ketika narasumber sedang tidak dalam kondisi terbaik untuk berbicara, kita harus memiliki bekal riset yang kuat tentang hal-hal yang disukai atau menjadi perhatian mereka. Dari situ kita bisa membangun kembali mood dan menciptakan percakapan yang menarik,” jelas Indro.
Sementara itu, Dedik Priyanto, yang pernah berkarier di Kompas TV, membawakan materi mengenai teknik menggali cerita dari narasumber. Ia menjelaskan bahwa setiap orang memiliki cerita yang menarik, namun tidak semua mampu menyampaikannya dengan baik.

Menurut Dedik, setiap orang memiliki kisah yang menarik untuk dibagikan. Namun tantangannya adalah tidak semua orang mampu mengungkapkan cerita tersebut dengan baik. Oleh karena itu, seorang pewawancara maupun penyiar harus memiliki kemampuan bertanya, mendengar secara aktif, dan mengeksplorasi informasi lebih dalam.
“Setiap orang punya cerita menarik, tetapi tidak semua orang mampu mengeksplorasi cerita itu. Di sinilah peran seorang komunikator untuk membantu menemukan sudut pandang yang menarik dan relevan sehingga cerita tersebut dapat tersampaikan kepada publik,” ungkapnya.
Sesi terakhir menghadirkan Ahmad Rozali, Direktur Podcast RuangPublikIDN, yang membahas perkembangan industri podcast di Indonesia serta strategi membangun sebuah kanal podcast yang berkelanjutan.
Pada sesi terakhir, peserta mendapatkan wawasan mengenai perkembangan industri podcast dari Ahmad Rozali, Direktur Podcast RuangPublikIDN. Ia menjelaskan bahwa podcast saat ini menjadi salah satu media yang berkembang pesat karena memberikan ruang bagi kreator untuk menyajikan konten yang lebih mendalam dan dekat dengan audiens.
Menurut Rozali, keberhasilan sebuah podcast tidak hanya ditentukan oleh kualitas perangkat yang digunakan, tetapi juga oleh konsistensi produksi, kualitas konten, serta strategi distribusi yang tepat.
“Membangun channel podcast membutuhkan komitmen dan konsistensi. Konten yang baik harus didukung dengan perencanaan yang matang, pemahaman audiens, serta kemampuan memanfaatkan berbagai platform digital agar jangkauan pendengarnya semakin luas,” tuturnya.
Kepala Program Studi Ilmu Komunikasi UTA’45 Jakarta, Vidya Kusumawardani, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu upaya kampus untuk menjembatani dunia akademik dengan kebutuhan industri.
Menurutnya, pembelajaran yang dipadukan dengan pengalaman langsung dari para praktisi media akan memberikan bekal yang lebih komprehensif bagi mahasiswa dan peserta dalam menghadapi tantangan dunia kerja di bidang komunikasi dan penyiaran.
Selain sesi pemaparan materi, peserta juga menadaptakan kesempatan mengunjungi radio UTA Vocie dan mengikuti praktik langsung menjadi announcer radio, host, dan podcaster. Dalam sesi ini, peserta diberikan kesempatan untuk mengasah kemampuan berbicara di depan mikrofon, menyusun materi siaran, melakukan simulasi wawancara, hingga membangun interaksi dengan audiens.
Suasana pelatihan berlangsung interaktif dan penuh antusiasme. Para peserta aktif berdiskusi dengan narasumber serta berbagi pengalaman dan aspirasi mengenai dunia media yang semakin dinamis.
Melalui kegiatan ini, Program Studi Ilmu Komunikasi UTA’45 Jakarta berharap dapat menjadi wadah pengembangan talenta-talenta muda di bidang komunikasi, penyiaran, dan media digital. Pelatihan ini juga diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan diri peserta, mengembangkan kreativitas, serta mempersiapkan mereka menjadi generasi komunikator yang profesional, adaptif, dan siap menghadapi tantangan industri media modern.

Leave a Reply